
My Uncle & I
Oom saya menderita Down Syndrome, namun tidak seperti penderita down syndrome pada umumnya yang hanya bisa bertahan hingga memasuki usia remaja, tahun ini ia berusia 47 tahun, Oom saya tergolong mandiri, bahkan turut membantu dalam melakukan pekerjaan rumah dan juga jago main tenis meja. He called himself “Oom Dudin”
Makanan favorite Oom Dudin adalah ‘apa saja’, bahkan ketika ayah saya tidak sengaja membuat pancake dengan fry pan bekas goreng ikan asin, dia nampak tidak sabar untuk mencicipi pancake tsb, akhirnya potongan pancake pertama tsb pun saya relakan jatuh ketangannya, lalu saya tanya “enak ngga Oom?” sambil huh hah huh hah kepanasan diapun menjawab
“ena’o, gosyon” (read. Enak lho, gosong) hauhauhau terlihat dia tidak ingin menyakiti perasaan yang masak.
Suatu hari ada tetangga yang melapor ke tante saya kalau Oom saya itu suka mengambil rokok di warung dekat rumah, lalu tante saya pergi ke warung tersebut dan menanyakan “Pak, apa betul Dudin suka ngambil rokok disini?”, lalu yang punya warung bilang “Iya bu, Dudin kan punya deposito disini”, lha kok bisa? Ternyata usut boleh usut Oom saya itu kalau belanja di warung tidak mau menerima kembalian, mungkin karena nenek saya suka marah kalau dia menerima uang dari orang lain jadi ketika diberi uang kembalian ia selalu menjawab
“ga usyah” dengan gaya bossy-nya yang khas. Beruntung Bapak yang punya warung baik, jadi setiap Oom saya belanja ke warungnya, jumlah uang yang dibayarkan selalu dicatat dan dianggap sebagai deposito.
Oom saya ini sangat taat beragama, walaupun kadang ketika sholat sholat berjamaah dirumah dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu (misal, kakak saya baru pulang) ia akan
berlari membukakan pintu, lalu kembali lagi ke posisi sholatnya, nah ini dia yang suka bikin sholat ngga khusyuk karena saya jadi mesti menahan diri supaya ngga cekekekan.
Setiap sholat jumat, jam 10 dia sudah berangkat ke masjid untuk bantu-bantu memasang karpet sajadah, menyapu masjid, lalu setelah selesai sholat ia ikut merapikan masjid. Posisi sholatnya selalu dibelakang imam, suatu hari posisi dibelakang imam sudah terisi, lalu dengan bossy-nya dia menyuruh orang yang menduduki posisi favoritenya agar bergeser, si Bapak sih tidak keberatan, hanya saja seluruh mata tertuju ke si Oom, ternyata Bapak itu adalah salah seorang tokoh masyarakat setempat yang telah mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tsb
hauhauhauhau, nampak kalimat “Semua orang sama di mata Allah” telah menjadi prinsip si Oom.
Pernah Oom Dudin menghilang dari rumah, ayah saya pun panik mencari-cari dia, ngga lama kemudian ia pulang, rapi, sudah pakai baju koko, lalu ayah saya bertanya “Dudin tadi kemana?” tapi si Oom hanya diam dan menunduk malu-malu, ternyata dia habis dari masjid, tetapi karena masjid sepi
, akhirnya dia pulang lagi, karena hari itu adalah hari rabu bukan hari jumat hauhauhuahu.
Udah lama ngga ketemu, terakhir lebaran tahun lalu, but anyway happy birthday Oom
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
