Saya menulis artikel ini sebagai bentuk kekhawatiran saya terhadap tingkat konsumsi di indonesia yang semakin meningkat. Meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia dianggap sebagai peluang bisnis bagi sejumlah bank, mereka berlomba-lomba memberikan penawaran produk bias merangsang rasa konsumtif masyarakat
(ayoo beli teruuss). Antusias perbankan itu merupakan hal lumrah mengingat pendapatan non bunga yang bakal diraihnya cukup menggiurkan.
Kartu kredit bisa menggaet masyarakat untuk konsumtif melalui penawaran-penawarannya, tapi kalau tdk bijak menggunakannya bisa jadi kere
. Caranyapun bervariasi mulai dari pemberian diskon hingga cash back. Dan masyarakatpun tergoda, pasalnya kenaikan transaksi pada event-event seperti liburan sekolah ataupun moment hari raya mencapai 30% lebih dibandingkan pada bulan biasa.
Industri yang tumbuh pesat,
terutama fashion, juga mempengaruhi trend penggunaan kartu kredit masyarakat merasa diberikan kemudahan berbelanja tanpa harus repot membawa tumpukan uang tunai, ditambah lagi sekarang mal-mal juga sudah mulai setia (setiap tikungan ada). Sifat konsumerisme masyarakat yang meningkat menjelang hari raya seperti lebaran memberikan kontribusi terhadap sektor consumer banking.
Contohnya menjelang lebaran di tahun 2007, Bank Bukopin yang mempunyai core business sector UMKM pun turut mencicipi
‘kue’ lebaran melalui sektor consumer. Bank Bukopin memberikan program cash back 50% bagi nasabah yang membayar dengan kartu kreditnya di seluruh resto dan café di Indonesia. Namun programnya hanya berlangsung hingga 31 Oktober 2007 dan hanya berlaku untuk setiap transaksi antara Rp.250 ribu hingga Rp.1 juta, sehingga maksimum cash back mencapai Rp.500 ribu. Menurut Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin, nilai transaksi menggunakan kartu kredit Bank Bukopin hingga Juni 2007 mencapai Rp120 miliar, dan dalam 5 tahun terakhir perkembangannya menunjukkan trend yang positif
.
Bank plat merah, BRI pun ikut memanfaatkan momentum bulan puasa, lebaran, natal dan tahun baru guna menggenjot
pendapatannya. Di bulan-bulan terakhir itulah kebutuhan masyarakat akan barang konsumsi akan meningkat. Meningkatnya kebutuhan barang konsumsi itu ditengarai akan turut mendongkrak fee based income pada 2007.
Secara nasional, hingga bulan Agustus 2007, terjadi pertumbuhan kredit sebesar 45,20% dari posisi Desember 2006 yang senilai Rp4,9 triliun menjadi 7,2 triliun
beuh! dooit tuh?? So, what d’u think ‘bout that?
[sumber data: Majalah Perbankan No.122 Oktober-November 2007]
1 Comment(s)
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

Thanks for posting the article, was certainly a great read!